Maturity in Living Life

 



Akhir-akhir ini aku merenungkan banyak pikiran yang seakan-akan terus muncul disetiap waktu tentang sebuah kedewasaan. Sejak SMP aku memiliki kebiasaan untuk merenung pada waktu-waktu tertentu di selasar bangunan sekolah, ntah di balkon, di tempat duduk, melihat orang-orang yang berjalan sambil memikirkan tentang arti dari kehidupan ini. Bersikap dewasa sebelum waktunya memang membuat ada kepingan yang hilang dari hidup yang aku miliki, yaitu waktu menjadi remaja seutuhnya. Waktu berjalan maju kedepan tetapi aku merasakan berjalan ke arah sebaliknya, ingin merasakan perasaan muda, remaja itu. 

Saat pilihan sudah aku ambil dengan langkah yang berani dan mencoba keluar dari jebakan yang merusak kesehatan mental. Ini menjadi momen aku menyadari tentang kedewasaan itu, memikirkan ulang kemana sebenarnya arah yang akan dituju. Dahulu aku telah memetakan tujuan dengan sangat optimis dan berani, namun berkali-kali realita mematahkan semangat itu membuat perlahan-lahan aku kelelahan, seperti mencoba melawan keadaan yang sebenarnya.

Saat aku berani untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan, saat aku memiliki semangat seperti api yang berkobar di dalam tungku, berbagai masalah yang datang seperti tidak terasa. Tapi tidak aku sangka itu membuat jiwa ini merasa kelelahan. Ntah apakah aku bisa memulihkan semangat itu pada masa yang penuh kegelisahan seperti ini atau tidak, tetapi aku terus mencoba yakin karena Tuhan tidak akan meninggalkan hambanya dalam kesulitan. 

Kedewasaan ini membuat beberapa orang disekitarku yang dahulu aku kenal menjadi asing, jabatan, karir, harta menjadi salah satu faktornya. Walaupun ini hanya sebatas hipotesis, tetapi perubahan itu memang nyata terlihat walau hanya sekilas. Menakjubkan beberapa orang lainnya masih menunjukkan sikap yang sama, seperti sebuah saringan yang menyaring air kotor menjadi air bersih, hanya tersisa air bersihnya saja.

Berkali-kali aku kehilangan sosok yang hangat dan penuh perhatian, dosen, teman, saudara, membuat hati ini menjadi dingin dan membeku. Namun, Allah Ta'ala hadir setiap saat menjaga agar tetap menjadi seorang manusia yang bermoral, melindungi dari segala macam keburukan, kejahatan. Rasa syukur menjadi penenang jiwa yang meratapi kehidupan, membuat menjadi tenang dan tetap percaya.

Di dalam kesendirian yang menjadi tempat ternyaman aku miliki, tulisan ini keluar dari pikiran yang tidak bisa diutarakan. Apa arti sebuah kesetiaan jika pernah terjadi pengkhianatan, apa arti sebuah cinta tanpa ketenangan, kedewasaan bukan bersikap dingin, angkuh, egois tapi sikap dimana kita tahu bagaimana untuk menjadi manusia seutuhnya, bermoral, bertuhan. Nafs Amarrah menjadi Nafs Lawammah lalu menjadi Nafs Mutmainnah.

Posting Komentar

0 Komentar