Arti & Cara Shalat

Arti & Cara Shalat

 


Apakah shalat itu?

Apakah shalat itu? Shalat adalah permohonan doa yang diajukan kepada Allah Yang Maha Agung dimana tanpa itu maka seseorang tidak bisa sepenuhnya dianggap bisa hidup dan memperoleh sarana keamanan dan kebahagiaan. Hanya berkat Rahmat Ilahi saja maka manusia bisa memperoleh ketenangan hakiki. Dari sejak saat itu maka yang bersangkutan akan merasakan kenikmatan dan kesenangan dari shalat.

Sebagaimana ia mendapat kenikmatan dari makanan lezat, ia pun akan memperoleh kenikmatan dari isak dan tangisnya saat shalat. Sebelum ia mencapai kondisi demikian dalam shalatnya itu, perlu kiranya ia bersiteguh dalam shalatnya tersebut sebagaimana halnya orang yang harus menelan obat pahit agar pulih kembali kesehatannya. Perlu baginya tetap rutin melaksanakan shalat dan mengajukan doanya meski saat itu ia belum merasakan kenikmatannya. Dalam keadaan seperti itu, ia harus mencari kepuasan dan kesenangan dalam shalat melalui pengajuan doa berikut:

"Ya Allah, Engkau melihat betapa butanya diriku dan saat ini aku sepertinya seperti orang yang sudah mati. Aku menyadari bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi aku ini akan kembali menghadap kepada-Engkau dimana tidak ada seorang pun bisa mencegahnya. Namun hatiku ini buta dan belum mendapat pencerahan. Turunkanlah ke dalam hatiku nyala nur yang terang agar hatiku diilhami dengan kecintaan kepada-Engkau dan pengabdian kepada Engkau. Berkatilah aku dengan Rahmat-Engkau ini agar aku tidak dibangkitkan nanti dalam keadaan buta atau bersama mereka yang tidak melihat."

Jika ia berdoa dengan cara ini dan bersiteguh dalam doanya maka ia akan melihat satu waktu akan datang ia merasakan sesuatu turun ke dalam hatinya ketika ia sedang berdoa demikian yang akan meluluhkan hatinya.[1] [2]

---

Allah Ta'ala berfirman,

وَالَّذِیۡنَ ہُمۡ عَلٰی صَلَوٰتِہِمۡ یُحَافِظُوۡنَ ۘ﴿۱۰﴾

"Dan mereka yang memelihara dengan ketat shalatnya." (QS. 23, Al-Muk'minun: 10)

Makna dari ayat ini ialah mereka yang beriman yang selalu menjaga keutuhan shalatnya dan tidak perlu diingatkan lagi oleh siapa pun. Hubungan mereka dengan Allah Swt sedemikian rupa sehingga ingatan akan Wujud-Nya menjadi suatu hal yang amat berharga bagi mereka, menjadi sumber segala ketentraman dan bahkan hidup mereka itu sendiri. Karena itu mereka selalu menjaga ketat shalat mereka dan tidak pernah ingin meninggalkannya.

Jelas bahwa seseorang akan menjaga sesuatu jika ia menyadari bahwa kehilangannya akan menghancurkan hidupnya. Orang yang akan menempuh perjalanan di gurun yang diduga tidak memiliki mata air atau pun makanan dalam jarak ratusan kilometer, dengan sendirinya akan menjaga persediaan bekal miliknya seolah-olah nyawanya sendiri karena keyakinan bahwa kehilangan benda-benda itu berarti kehilangan nyawanya. Karena itu mukminin hakiki akan selalu menjaga keutuhan shalatnya seperti si petualang di atas. Mereka tidak akan mengabaikan shalatnya meski pun menghadapi risiko kehilangan kekayaan atau kehormatan atau pun mengundang ketidak-senangan orang lain. Setiap kekhawatiran akan kehilangan kesempatan bershalat menjadikan mereka menderita dan terasa seperti mau mati. Mereka tidak bisa memikul beban perasaan telah mengabaikan ingatan kepada Tuhan meski hanya sekejap saja. Mereka menganggap shalat dan dzikir kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan dimana tergantung nyawa mereka.

Kondisi seperti itu akan tercapai ketika Allah Swt mengasihi mereka dimana nur terang dari Kasih-Nya turun ke dalam kalbu mereka dan memberikan suatu kehidupan baru bagi mereka sedemikian rupa sehingga ruhani mereka dicerahkan dan menjadi hidup. Dalam keadaan seperti itu, kesibukan mereka berdzikir dan mengingat Tuhan bukan lagi karena formalitas atau penampilan semata tetapi karena kesadaran bahwa Tuhan telah menjadikan kalbu mereka menjadi bergantung pada sumber makanan ruhani yang menjadi keniscayaan karena ingatan kepada WujudNya sebagaimana halnya tubuh phisik bergantung pada makanan jasmani. Hal inilah yang menjadikan mereka lebih menyukai sumber makanan ruhani ini dibanding makanan jasmani dan mereka selalu ketakutan akan kehilangan hal itu.

Semua itu sebagai akibat dari ruh yang turun ke diri mereka seperti sebuah nyala yang menimbulkan mabuk hakiki akan kecintaan kepada Tuhan dalam hati mereka. Mereka tidak ingin dipisahkan darinya meski hanya sekejap. Mereka siap menderita dan disiksa demi kedekatan demikian dan karenanya selalu menjaga ketat shalat mereka. Hal ini menjadi suatu yang alamiah bagi mereka bahwa shalat yang menjadi sarana keingatan kepada Tuhan lalu menjadi Sumber makanan ruhani yang pokok. Manifestasi kecintaan Allah Swt kepada mereka adalah dalam bentuk dzikir kepada Tuhan yang menyenangkan hati. Karena itulah dzikir kepada Tuhan lalu menjadi suatu hal yang amat berharga bagi mereka yang bahkan lebih berharga daripada nyawa mereka sendiri. Kasih Allah Swt merupakan jiwa baru yang turun ke hati mereka seperti sebuah nyala cahaya dan menjadikan shalat serta dzikir sebagai sumber makanan keruhanian mereka. Mereka meyakini bahwa yang menghidupkan mereka bukanlah roti dan air semata tetapi adalah karena shalat dan dzikir kepada Allah Swt.[3]

Shalat Dilakukan Dengan Cara Yang Tertib

Tuna ilmu sekali jika merasa puas hanya dari tampak luar pelaksanaan suatu shalat. Kebanyakan orang melaksanakan shalat hanya sebagai formalitas dan bersigegas sepertinya shalat itu menjadi beban bagi dirinya yang harus segera diselesaikan. Kemudian ada lagi orang yang bersicepat dalam shalat tetapi setelah itu berdoa panjang yang menghabiskan waktu dua atau tiga kali waktu shalat, padahal shalat itu sendiri tidak lain adalah doa semata.

Mereka yang melaksanakan shalat tidak dalam kerangka fikiran demikian dan tidak menyibukkan diri dengan permohonan doa saat itu, sesungguhnya telah gagal dalam shalat. Kalian harus menjadikan shalat kalian menjadi nikmat seperti makanan yang lezat atau air minum yang sejuk, karena jika tidak maka shalat hanya akan menjadi beban dan bukannya rahmat. Shalat adalah kewajiban yang harus dilaksanakan kepada Tuhan. Seyogyanya shalat dilakukan dengan cara yang tertib.[4] [5]

Doa Dalam Shalat

Shalat merupakan kriteria yang efektif dari kesalehan seorang mukminin. Mereka yang menangis dalam shalatnya akan memperoleh keamanan. Sebagaimana seorang anak yang menangis di pangkuan ibunya dan kemudian mendapat ketenangan karena kasih dan sayang ibunya itu, begitu juga halnya dengan ia yang memohon kepada AllahSwt dalam shalat dengan kerendahan dan hati yang mencair, samanya menempatkan dirinya dalam pangkuan kasih sayang Ilahi.

Ia yang belum memperoleh kenikmatan dalam shalatnya, sesungguhnya belum mendapatkan kenikmatan keimanan. Shalat tidak semata-mata hanya gerakan dan sikap tubuh. Sebagian orang bersicepat dalam shalat seperti ayam yang mematuk remah-remah di tanah, tetapi setelah itu berdoa panjang-panjang. Keadaannya sama dengan mengatakan bahwa shalat dilakukan secara cepat sebagai suatu acara formil, padahal itulah saatnya berdoa kepada AllahSwt. Selesai melaksanakan shalat tanpa hasil maka mereka lalu menyambungnya dengan doa-doa panjang. Lakukanlah pengajuan permohonan doa kalian pada saat shalat, jadikanlah shalat sebagai sarana untuk mengajukan permohonan doa.[6] [7]

Pengucapan Al-Fatihah Dalam Shalat

Doa adalah tujuan dan ruh daripada shalat. Bagaimana tujuan itu bisa dicapai kecuali dengan cara mendoa di dalam shalat. Sang penyembah sepertinya mendapat kesempatan hadir di hadapan Raja untuk menyampaikan permohonannya tetapi ia malah tidak berbicara apaapa saat itu. Setelah selesai kesempatan hadir dan meninggalkan hadirat sang Raja, barulah ia bermaksud menyampaikan permohonannya. Cara demikian tidak akan ada manfaatnya bagi yang bersangkutan.

Keadaan seperti itulah yang terjadi pada orang-orang yang tidak mengajukan doanya secara khusuk dan tekun pada saat sedang shalat. Lakukanlah pengajuan doa kalian ketika sedang dalam keadaan shalat dan laksanakan dengan cara yang tertib. AllahSwt telah mengajarkan kepada kita sebuah doa di awal mula Al-Quran dan memerintahkan kepada kita untuk membacanya sebagai persyaratan keabsahan shalat. Pengucapan Surah Al-Fatihah merupakan kewajiban dalam setiap shalat, hal mana menjadi indikasi bahwa doa hakiki seharusnya diajukan ketika sedang shalat.[8] [9]

Shalat Dilakukan Dalam Bahasa Arab

Shalat hanya boleh dilakukan dalam bahasa yang digunakan oleh Al-Quran. Namun setelah selesai dengan bacaan yang diwajibkan, kalian boleh saja mengajukan permohonan doa dalam bahasa kalian sendiri. Bacaan yang diwajibkan itu sendiri tidak boleh diabaikan. Umat Kristiani yang meninggalkan prinsip ini sekarang telah kehilangan segalanya.[10]

---

Apakah shalat itu sebenarnya? Shalat adalah permohonan yang diajukan dengan segala kerendahan hati dengan mengemukakan keagungan dan pujian bagi AllahSwt, pengakuan atas Kesucian-Nya, menghimbau sifat Pengampunan-Nya dan memohonkan berkat-Nya atas diri Hadhrat RasulullahSaw. Jika kalian sedang shalat, janganlah kalian membatasi diri hanya pada bacaan doa wajib sebagaimana halnya shalat dari orang-orang acuh yang shalatnya hanya merupakan formalitas tanpa realitas di dalamnya.

Ketika kalian sedang melakukan shalat, disamping bacaan doa wajib sebagaimana diajarkan Al-Quran dan Hadhrat RasulullahSaw, sebaiknya kalian juga mengajukan doa-doa kalian dalam bahasa sendiri agar hati kalian tergugah oleh kerendahan hati dan hasrat dirimu.[11] [12]

Doa Bisa Diajukan Dalam Bahasa Sendiri

Ajukanlah permohonan doa kalian dalam shalat lima waktu yang kalian dirikan. Kalian tidak dilarang untuk mengajukan permohonan doa dalam bahasa sendiri. Shalat tidak bisa dikatakan telah dilaksanakan dengan baik jika tidak dilandasi konsenstrasi, dan konsentrasi tak mungkin dicapai tanpa kerendahan hati, sedangkan kerendahan hati hanya mungkin dicapai karena memahami apa yang diucapkan. Karena itu hasrat dan getaran sukma hanya mungkin dihasilkan bila berdoa dalam bahasa sendiri. Namun tidak berarti kalian boleh mengabaikan doa-doa wajib dan kemudian mengerjakan shalat dalam bahasa sendiri. Bukan itu yang aku maksud. Maksud yang ingin kusampaikan ialah setelah bacaan doa wajib, perlu juga kiranya kalian mengajukan permohonan doa dalam bahasa sendiri.

Dalam doa-doa wajib tersebut terdapat berkat-berkat khusus. Shalat sendiri berarti doa. Karena itu ketika sedang shalat, ajukanlah doa agar memperoleh keselamatan dari bencana di dunia ini maupun di akhirat dan agar kalian nantinya bisa mengakhiri hidup ini dalam keadaan yang baik. Doakanlah juga isteri dan anak-anak kalian. Berbuatlah baik dan jauhilah segala dosa.[13] [14]

Filsafat Shalat Lima Waktu

Apakah gerangan Shalat kelima waktu itu? Shalat kelima waktu adalah terdiri dari aneka-ragam gambaran keadaanmu. Keadaan-keadaan penting dalam kehidupanmu meliputi lima macam perubahan yang terjadi atas dirimu sekalian pada masa percobaan. Perubahan-perubahan itu sungguh penting terjadinya bagi fitratmu.

(1) Pertama, apabila kamu sekalian diberitahu, bahwa suatu percobaan akan menimpa dirimu; umpamanya, dari Pengadilan datang suatu perintah penahanan atas dirimu. Inilah keadaan pertama yang merusak ketenteraman hati dan kebahagiaan kalian. Ya, keadaan ini sama dengan tergelincirnya matahari, sebab dengan itu kebahagiaan kalian mulai surut. Sebanding dengan keadaan itu, maka Shalat Dzuhur ditetapkan, yang waktunya adalah mulai sejak matahari tergelincir.

(2) Perubahan kedua terjadi atas dirimu, ketika kamu sangat didekatkan kepada tempat percobaan. Umpamanya, apabila kamu ditahan atas surat perintah penangkapan, lalu dihadapkan ke muka Hakim. Pada saat itu darahmu menjadi seakan-akan kering oleh ketakutan, dan sinar ketenteraman akan berpisah dari kalian. Jadi, keadaan itu sama dengan saat ketika cahaya matahari menjadi pudar, dan kita dapat memandanginya serta nampak dengan jelas kini saat tenggelamnya hampir tiba. Keadaan rohani sebanding dengan itu ditetapkan Shalat Asar.

(3) Perubahan ketiga terjadi atas dirimu tatkala seluruh harapan memperoleh keselamatan dari percobaan itu putuslah sudah. Misalnya, seperti keadaan bila ditulis atas namamu surat vonis yang menyatakan bahwa kamu bersalah dan saksi-saksi diajukan, memberatkan kebinasaanmu. Itulah saat ketika kamu kehilangan keseimbangan dan merasa diri sendiri sebagai seorang tahanan. Maka, keadaan itu mempunyai persamaan dengan keadaan, ketika matahari terbenam dan habislah sudah segala harapan mengenai kecerahan siang hari. Imbangan bagi keadaan rohani untuk ini ditetapkan Shalat Maghrib.

(4) Perubahan keempat terjadi atas dirimu, bila percobaan menimpa dirimu, dan kamu dikelilingi oleh kegelapan pekat; umpamanya, setelah dinyatakan bersalah dan setelah saksi-saksi selesai didengar, Hakim menjatuhkan hukuman, dan kamu diserahkan kepada polisi untuk dipenjarakan. Maka keadaan itu bersesuaian dengan saat bila hari telah malam, dan gelap-gulita telah menyelimuti. Keadaan rohani sebanding dengan itu ditetapkan Shalat Isya.

(5) Kemudian, ketika kamu tinggal selama satu jangka waktu yang paling panjang dalam kegelapan musibah itu, pada akhirnya bergeloralah kasih sayang Tuhan dan meliputi dirimu, lalu Dia melepaskanmu dari kegelapan itu. Misalnya, seperti sesudah gelap pada akhirnya fajar menyingsing, dan cahaya hari pun dengan terangbenderangnya memperlihatkan diri. Maka imbangan untuk keadaan rohaninya ditetapkan Shalat Subuh.

Tuhan telah menetapkan bagi kamu sekalian waktu Shalat, setelah memperlihatkan kelima keadaan dalam perubahanperubahan fitratmu. Dari itu kamu sekalian dapat mengerti, bahwa Shalat-shalat itu istimewa berfaedahnya bagi dirimu sendiri.

Walhasil, apabila kamu sekalian menghendaki supaya kamu sekalian selamat dari percobaan-percobaan itu, maka janganlah hendaknya kamu sekalian meninggalkan Shalat kelima waktu itu, karena Shalat merupakan bayangan perubahan-perubahan batin dan rohani kalian.

Di dalam Shalatlah terkandung obat untuk mencegah musibab-musibah mendatang. Kalian tidak mengetahui bagaimana taqdir akan menjelangmu esok hari ketika fajar baru akan menyingsing. Karena itu, sebelum sang kencana surya mengumandangkan hari telah siang, berkeluh-kesahlah di haribaan Tuhan, dan mohonlah agar hari itu melimpahkan kesejahteraan dan keberkatan bagi kalian.[15]

Shalat Hakiki

Disebut sebagai shalat hakiki ketika bisa tercipta hubungan yang tulus dan suci dengan Allah Yang Maha Agung dimana si penyembah menjadi demikian mengabdi kepada kehendak Allah dan kepatuhan kepada-Nya. Ia menjunjung keimanannya di atas segala nilai-nilai keduniawian dan ia akan selalu siap mengurbankan jiwanya di jalan Tuhan.

Pada keadaan demikian itulah dikatakan bahwa shalat seseorang patut disebut sebagai shalat hakiki. Sepanjang kondisi ini tidak tercapai dan si pelaku tidak menjadi teladan ketulusan dan keimanan bagi yang lainnya maka segala doa dan tindakan lain yang dilakukannya menjadi tiada arti.[16] [17]