Hello, I'am Naufal Ahmad Shiddiq

Story Development & Designer Graphic

About Image

Naufal Ahmad Shiddiq

Story Development, Designer Graphic

Short Story About Me!

I was born in Bogor on 14th November, 1999 with my beloved parents. Until i grow up, i have finished my study in Elementary School, Junior High School, Vocational High School with Multimedia Department and now i in study Bachelor Degree (S1) Science Communication Department. I build my own studios developing in creative industry, animation and comic named "Anindosta" with my friend from Vocational High School. We have same goal to achive and build animation and comic studios in Indonesia in the future was begin on 2014.

Professional Experience

I developing bussiness with my friend named "Anindosta" working in animation and comic IP.

  • Internship at PT. Arm Cipta Mulia Development (2017)

I was internship in property residence bussiness named "Arm Cipta Mulia" in Vocational High School.

  • Freelancer at Imeut Creative (2017)

I was making graphic designer for yearly book children and video editor for wedding documentation.

  • Freelancer at X-Mograph Photography (2017)

I was making name card design for bussiness working in photography.

I was making wallpaper for back drop class in Smk Informatika Pesat.

  • Freelancer at Astra International (2019)

I was making poster and presentation design for ESR Division on PT. Astra International, tbk.

  • Internship at Puslitbang Hutan Kota Bogor (2020)

I was internship in Puslitbang Hutan Bogor under authority Indonesian Ministry of Forestry as graphic designer and press agentry.

PROFESSIONAL ACHIVEMENT

  • TOP 25 Finalist Astra Startup Challange (2019)

  • Finalist Deureuham Competition (2019)

  • Finalist Diplomat Success Challange (2019)

  • Finalist Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo dan Professional Launching, Batam (2019)

  • Winner Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia/ KBMI (2020)

  • Finalist Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo, Jakarta (2020)

PROFESSIONAL SKILL

Graphic Designer

Video Editor

Video Effects

Public Communication

Social Media Publishing

Story Development (Films and Comic)

My Blog

 

Almarhumah Fatimah Rais binti Mad Rais


Januari 2021 merupakan bulan dimana aku kehilangan sosok yang sangat menginspirasi, sangat mencintaiku dengan seluruh jiwa raganya. Nenekku, ibu Fatimah. Ia membesarkanku dan adikku bersama dengan kedua orang tuaku selama hampir 21 tahun berada di sampingku menemani setiap perjuangan dan langkah yang aku tempuh. Ia memberikan dukungan, air mata setiap kali kepergianku dalam memperjuangkan mimpiku membangun studio animasi Anindosta. Ia berdoa tak kenal waktu untuk keselamatan kami semua dan saudari-saudarinya yang telah berpulang lebih dahulu ke rahmatullah.

Tanggal 25 Desember 2020, bapakku terkena wabah terbesar dalam 100 tahun terakhir yaitu virus Corona yang mematikan dan berbahaya. Dengan cepat virus tersebut menular ke nenekku yang sudah rentan usia dan kesehatannya disertai dengan penyakit komorbit yang dideritanya yaitu Stroke. Nenekku telah berjuang selama lebih dari 10 tahun sejak pertama kali terkena penyakit Stroke yang aku saksikan sendiri saat diriku masih anak-anak. Ia tergeletak terjatuh secara tiba-tiba saat ingin memberiku susu botol. Ia terkena Stroke dan hanya tangan dan kaki kirinya saja yang lemah akibat stroke tapi nenekku terus beraktivitas seperti biasa. Ia melawan penyakit itu selama bertahun-tahun dengan bantuan obat-obatan yang harus ia konsumsi untuk meringankan rasa sakit yang dideritanya. Ia merupakan salah satu orang yang sangat taat beribadah sejauh penglihatanku dan pengalamanku. Terkadang aku takjub dengan kegigihannya saat beribadah setiap waktu dan beraktivitas seperti orang dewasa tanpa memperdulikan sakit yang dideritanya.

Ia merupakan sosok yang sangat baik, setiap kali ada pedagang dan penjual makanan atau perabotan selalu ia panggil dan akrab mengobrol. Terkadang membelinya juga. Ia dikenal oleh banyak masyarakat sekitar akibat jual beli seperti itu. Ia sering memperlakukan orang lain bahwa pembantu rumah tanggal seperti saudara sendiri tanpa ada batas yang memisahkan seperti jabatan atau perbedaan tingkat ekonomi. Semua ia perlakukan dengan penuh perhatian dan kasih sayang selayaknya saudara. Tak jarang, orang lain memberikan tempat khusus untuk nenekku di hati mereka. Keakraban yang sangat erat antar mereka seperti bertukar makanan, mengobrol, saling bantu sesama, dan hal-hal lainnya yang aku sering perhatikan secara sengaja maupun tak sengaja. Ia sering menghadiri beberapa pengajian bersama tetangga, dan mengajak pula nenekku untuk makan bersama. Sungguh, demi Allah aku sangat terharu melihat nenekku bersama para tetangga dan masyarakat sekitar. Aku terkadang merasa malu karena tidak bisa seperti nenekku yang dapat melakukan hal-hal tersebut.

Pada awalnya nenekku hanya merasakan gejala demam setelah bapakku dibawa ke rumah sakit akibat gejala yang cukup berat yaitu demam, muntah-muntah, pusing, menggigil. Aku tidak menyangka bahwa bapak dan nenekku terkena Corona sehingga kami tidak menerapkan isoman dengan protokol kesehatan ketat. Setelah bapakku berada di rumah sakit, nenekku merasakan gejala demam selama 1-3 hari dan pada hari ketiga ia muntah. Ibu menyuruhku untuk membawa nenekku ke rumah sakit. Saat itu aku sedang kuliah secara daring, aku menyuruh adikku untuk menyiapkan nenekku dan semua perlengkapannya seperti baju, dan sebagainya untuk persiapan rawat inap di rumah sakit mungkin 3 harian. Setelah ba'da zuhur, aku izin kepada dosenku ibu Agustini untuk mengantar nenekku ke rumah sakit. Aku dan adikku berangkat bersama nenekku ke rumah sakit menaiki mobil online IN Driver yang dipesan. Aku berangkat tepat pukul 2 siang. Sesampainya di rumah sakit, ibuku dengan pakaian perawatnya menemui kami dan membawa nenekku masuk ke rumah sakit. 

Nenekku terlihat sehat dan tidak ada sakit yang berarti. Ia menunggu di ruang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi Bogor untuk bisa mendapatkan ruang rawat inap selama 2 hari. Ibuku mengurus nenekku di UGD sambil ia bekerja. Ia terlihat sangat lelah mengurus nenek dan bapakku selama beberapa hari. Aku sangat sedih melihat kondisi keluargaku yang seperti itu. Virus Corona mengubah kedamaian keluargaku menjadi sebuah kondisi yang sangat berantakan. Pada setiap malam, aku, adikku, dan ibuku melakukan video call ke nenekku dan bapakku yang sedang dirawat di rumah sakit. Nenekku berbicara pelan menyapa dan mengobrol. Permintaannya hanyalah dibawakan buah Salak, itu buah yang disukai oleh nenekku hingga 1 KG buah Salak habis dimakannya. Hanya itu saja yang ia makan selama di rawat di rumah sakit. Ia meminta lagi untuk dibawakan buah Salak, ibuku membawakannya lagi 1 KG. Itu makanan terakhir yang ia makan sebelum dia meninggalkan kami selama-lamanya. Tanggal 3 Januari 2021, kondisi saturasi oksigen nenekku mulai terus menurun hingga dipasangkan selang oksigen dobel namun itu tidak menaikkan saturasi oksigen nenekku. Saturasi oksigen merupakan kandungan oksigen yang berada di dalam darah. Paru-parunya yang terus memutih akibat bercak-bercak Pnemuonia atau radang paru-paru membuat paru-paru nenekku tak sanggup menyerap oksigen yang cukup untuk bertahan hidup melawan keganasan virus ini. Nenekku hanya diam sambil terengah-engah bernafas. Ia menitipkan pesan terakhirnya untuk kami melalui bapakku untuk menjaga aku, adikku, dan ibuku. Pagi hari pada tanggal 5 Januari 2021, ibuku dalam kondisi yang sangat lelah dan demam datang menjenguk nenekku yang sedang dalam kondisi kritis, itu membuat saturasi oksigen nenekku kembali meningkat.

Ibuku melihat nenekku yang terbaring sambil berusaha bernafas dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Ibuku berkata untuk tidak usah banyak berbicara kepada nenekku agar tidak membuat ia kehabisan nafas dan energi di saat seperti itu. Setelah itu ibuku pulang ke rumah karena kondisi kesehatannya menurun. Sesampainya di rumah, ia demam tinggi dan meminum obat demam. Siang hari pukul 12, salah satu perawat dan juga teman ibuku menelepon hp adikku karena hp ibuku sedang habis baterainya. Ia memberitahu bahwa nenekku kembali dalam kondisi kritis, hingga nafasnya 1-1. Ibuku panik dan mengajak aku ke rumah sakit sementara adikku di rumah. Kami pergi dengan menaiki motor ke rumah sakit dengan banyak persepsi dan pikiran yang aneh-aneh. Setelah sampai, betapa terkejutnya aku dan ibuku diberitahu bahwa nenekku telah tiada. Ia meninggal dengan tenang. Aku dan ibuku menangis dengan histeris tak kuat menahan kesedihan yang sangat dalam. Adikku pun ikut menangis dengan histeris di rumah saat aku beritahu melalui telepon Whatsapp. Ia nekad untuk pergi ke rumah sakit naik GOJEK. 

Kami dalam suasana kesedihan dan rasa duka yang mendalam. Ketidakpercayaan akan kehilangan nenekku pun ikut muncul karena kondisinya yang sehat namun bisa sekejap memburuk. Bapakku dengan kondisinya yang sudah berangsur-angsur pulih ikut melihat ketika nenekku sedang sakaratul maut. Ia menyaksikan dengan kesedihan yang mendalam, meneteskan air mata duka. Aku disodorkan sebuah papan untuk dituliskan nama nenekku yang akan menjadi penanda makamnya. Dengan kondisi yang penuh berlinang air mata, aku kuatkan untuk menulis di papan nisannya. Saudarinya datang ke rumah sakit, mengawal pemakaman nenekku. Hanya dua orang yang sampai di rumah sakit, lalu dua orang lagi sampai setelah almarhumah nenekku sudah sampai di pemakaman Situ Gede Bogor. Pemakaman hanya untuk jenazah Covid-19. Aku tidak menyangka di usianya yang baru menyentuh 70 tahun 4 bulan, nenekku pergi menemui sang khaliq. Ia menemukan ketenangan dan keabadian serta menikmati semua nikmat-nikmat atas segala perbuatan dan amal ibadahnya selama di dunia.

Kematian sebelumnya hanya menjadi pengetahuanku saja dan penglihatan serta pendengaran. Setelah nenekku yang sangat dekat denganku bisa meninggal seperti itu, membuat peninggalan dan kesadaran besar bagiku bahwa kita sewaktu-waktu dapat menemui kematian. Kesadaran itu tumbuh begitu cepat setelah kepergian nenekku. Setelah nenekku meninggal dan bapakku pulang ke rumah karena sudah sembuh dari penyakit Covid-19. Giliran aku dan ibuku pula merasakan penyakit yang sama. Ibuku merasakan sakit yang cukup berat hingga terjadi pembekuan darah yang memaksa untuk menjalani perawatan di rumah sakit selama 2 minggu. Sementara aku hanya menjalani isolasi mandiri dengan gejala yang cukup ringan yaitu demam, menggigil, pusing, diare, dan pegal-pegal. Bapakku mengurus aku dan ibuku. Alhamdulillah adikku tidak terkena penyakit ganas itu, sebuah keajaiban yang luar biasa karena ia kontak begitu dekat dengan kami namun tak ada satupun gejala yang dirasakan oleh adikku. Ia tidak tertular sama sekali virus ini. 

Pengalaman ini merupakan jejak peninggalan besar bagi keluarga aku dan merenggut kasih sayang nenekku dari kami. Begitu banyak pelajaran dan hikmah yang dapat diambil dari pengalaman ini. Semua ini aku ceritakan secara lengkap pada blog ini sebagai bukti sejarah bahwa aku memiliki pengalaman seperti ini dan bukti bahwa orang baik selalu ada.









Naufal Ahmad Shiddiq
Penulis

 


First year i come to Djuanda University, i entering the organization in Faculty of Social and Politic Science or usually called FISIP. Sometimes in class, my friend ask me about my skill to make a graphic design and i invited by senior colleger to enter DPM. I was very confused because i dont know what it's. For the first time, i join the meeting of DPM administrator, i slowly know about DPM. DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) it is an faculty organization same as like DPR but this organization control BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa).


And i meet other administrator from other level of studies. Most time in DPM organization it's meeting for a coordination with BEM in several moment. I rarely to come in the meeting because i must to study and i very lay about that organization. Until i with other administrator making big meeting or Musyawarah Besar to report about work responsibility in one year past.


I know mr. Fajar as leader of DPM organization, that enough very closer between us to chatting and discussion. My friend in same level studies start to join assemblage in communication study program and public administration study program. Normaly, i must to enter assemblage for the first time in university but bad rules make me stuck in DPM. DPM is the highest organization in faculty, but i in junior level can enter that organization it's very weird for me and my friends.


I invited by new leader of DPM organization to be second leader DPM because i have one year experience in DPM before with mr. Fajar. Mr. Hanafi as new leader of DPM organization in 2019 want me to join again in DPM and help they administrator to run new administrator DPM organization. I accept the invitation, but i most working in publication media on Instagram or blog of DPM organization to inform the colleger about meeting schedule, meeting result, or other else. It's working well until i with Hanafi's administrator finished the position in DPM organization on November 2020.


For now, i make promise to no longer in faculty organization, BEM or DPM organization because i want to focus finished my study and my business to achive the goal. That my experience in university organization on two year from i junior level study until middle level study now.

 


Back to 2014, i was sit on Junior High School in lastly before gradute. I very like animation of Malaysia, that very awesome in story, and visual graphic. I think, when Indonesia can make like that, very awesome if my coutry can produce animation like that. So, i with my friend, Yovan try to make name of animation studios if somedays we can build that. We found the name of studios after several minutes thinking, we try to combine every word to become local animation with international class. The name is Anindosta (Animasi Indonesia Semesta/ Indonesian Animation Universe) that result of our mind, we dont know to make that dream become real. We absolutly dont know how to develop that dream until i go to Vocational High School after 1 years to finish my Junior High School. 

I just remember that dream, and i meet new friend. I see that potential skill of animation is  draw a sketch, and some picture painting. I interest to develop that dream with him, named Danang. I meet too with other friend in same interest is watching Malaysia animation film, and i try to make friendship with him too, named Ryan. We try to develop Anindosta together, sometimes i have to try make they still belive to this dream can change Indonesian animation industry. We try too make a team, and send many proposal to television studio, and else in first year in Vocational High School. We have many problem in outside, and inside the team. Different idea of concept and story make some serious problem and then i have to decide the best solution for the problem. But, it not easy to do, the problem can't pure solved. I still try to continue to make this dream become big goal in the future with loyal team.

Many member of team will selected by condition, some people want to do in other different way, and some people else try to develop project of Anindosta it's Volter Stein's. Very hard process to do, many problem come one by one try to make our surrender but i with my heart still beliving this dream. Not to develop the entrepreneur but develop the noble mission of this dream it's make peace in every world with entertainment field like animation film and comic project. Until now, i with team continue to prove it about the true of this dream, we called "Anindosta".

 
















© Copyright - Naufal's Personal Sites. Design By Premium Blogger Templates