Pemimpin itu Pelayan

Pemimpin itu Pelayan

 


Seringkali orang berambisi secara berapi-api dengan lantang untuk menjadi seorang pemimpin. Mereka berharap dapat kekuasaan dan penghormatan tinggi dari orang lain melalui jabatan tersebut. Namun, saya sendiri berbeda dari semua itu. Sejak awal Anindosta Studios dibentuk pada tahun 2014, istilah pemimpin masih sangat kabur mungkin sedikit terlihat karena saya aktif untuk menghidupkan organisasi namun tidak mendapat dukungan yang sepadan dengan pelayanan yang saya berikan secara sukarela kepada anggota Anindosta Studios baik jiwa, raga, harta, dan kehormatan. 

Anindosta Studios merupakan organisasi yang kami dirikan bersama untuk mengembangkan mimpi kami yaitu membuat film animasi. Pada awalnya itu hanya sebatas kata kosong yang diucapkan oleh seorang anak muda "gila" yang duduk di SMP. Bagaimana mungkin anak SMP membuat studio animasi tanpa ada dukungan orang-orang atau sumber daya manusia dan pendanaan. Sejak saat itu saya di uji dengan cukup berat namun dapat saya atasi dengan tekad yang kuat, komitmen, konsisten yang saya bangun sejak kata itu diucapkan pertama kali.

Dalam Anindosta, terdapat seorang wakil dalam struktur yang kami bentuk pada awalnya. Namun untuk mendapatkan seorang yang percaya dengan apa yang saya percayai itu merupakan tantangan yang luar biasa sulit. Saya melakukan berbagai pendekatan untuk mendapatkan kepercayaan tersebut, karena seorang wakil harus mampu menggerakkan organisasi jika pemimpinnya sedang berhalangan. Itu ekspetasi yang saya harapkan, dan aturan yang ada dalam dunia struktur jabatan. Kenyataannya tidak seperti itu. Saya merasakan tekanan untuk menjadi pelayan bagi anggota organisasi yang terkesan tiada henti. 

Sejak tahun 2015 hingga saat ini, saya masih merasakan semua itu. Menjadi seorang pemimpin yang hanya sebagai pelayan bagi anggota organisasi. Wakil organisasi yang pernah saya beri kepercayaan dengan perjuangan yang berat tidak dapat sepenuhnya mampu mewakili harapan dan ekspetasi yang saya inginkan bagi organisasi. Ia ditunjuk pada tahun 2017 menggantikan seseorang yang pernah menjadi wakil organisasi namun terdapat beberapa hal yang membuat saya harus memberikan posisi tersebut kepada orang yang lebih pantas menurut saya. 

Danang menjadi seorang wakil dan founder atas pencapaiannya mampu mengimplementasikan mimpi dan harapan organisasi dengan proyek IP Volter Stein. Banyak hal yang sudah diperjuangkan oleh dirinya. Sehingga posisi dan gelar tersebut diberikan untuk menghargai jerih payahnya. Namun, ia sendiri dirasa belum mampu menggerakkan organisasi secara mandiri. Semuanya bergantung pada saya sendiri untuk hampir semua persoalan, baik ringan maupun berat. 

Sehingga banyak hal yang seringkali terlupakan akibat kemampuan yang saya terbatas untuk mengatasi semua persoalan yang muncul tanpa adanya keterlibatan seseorang bahkan wakil sekalipun. Saya sering kali mengatakan bahwa semua hal yang kita lakukan hanya untuk kemajuan organisasi dan suatu saat akan ada hasil yang timbal balik kepada diri kita. Danang yang masih terpengaruh oleh hiburan anime dan hal-hal lainnya yang membuat kewajiban terhadap jabatannya tidak sepadan dengan tanggung jawab yang dipegangnya.

Ia sering kali menganggap bahwa semua hal di organisasi merupakan tanggung jawab saya pribadi. Sehingga pemimpin hanya sebagai nama pajangan semata, pelayan merupakan kata yang tepat untuk mendeskripsikan hal ini. Hingga Danang kehilangan sosok ayahnya dan perlahan mengubah pemikirannya tentang tanggung jawab. Ia mulai mengerti tentang pentingnya tanggung jawab terhadap keluarga untuk memberikan sokongan hidup bagi mereka.

Mungkin kesadaran tanggung jawab ini terbentuk karena adanya tekanan yang sebenarnya terjadi pada diri pribadi Danang. Bertahun-tahun saya memperjuangkan untuk menekankan betapa pentingnya tanggung jawab pada organisasi. Semua hal yang dilakukan organisasi merupakan tanggung jawab bersama. Namun, mungkin inilah saatnya Danang sebagai wakil organisasi menyadari tanggung jawab itu sendiri secara pengalaman nyata yang terjadi pada kehidupannya.

Pemimpin itu pelayan, salah satu bentuk kepemimpinan. Itu yang sering kali terjadi bukan hanya pada Anindosta Studios tetapi pada banyak organisasi lain yang pernah saya ikuti di universitas maupun yang saya amati melalui teman-teman saya sendiri. Perlu waktu yang panjang untuk menyadarkan akan pentingnya tanggung jawab. Dalam hal ini tanggung jawab kepada organisasi, mungkin jika suatu saat sudah berkeluarga ia akan mengenal tanggung jawab yang lebih serius yaitu tanggung jawab kepada keluarga.

Saya sendiri belajar tanggung jawab sejak Anindosta terbentuk pada tahun 2014. Disitu ada tekad yang kuat terus mendorong saya untuk menjalankan tanggung jawab, komitmen, konsisten dan semakin diperkuat dengan berbagai lika-liku perjuangan sampai saat ini. Banyak hal yang saya dapatkan dari semua itu. Semuanya sering kali disebut sebagai pengalaman. 

Terkadang sesekali perlu ada pemimpin yang tidak harus sebagai pelayan, tapi sebagai penggerak rencana strategis pada suatu organisasi. Namun untuk mencapai pemimpin seperti itu, perlu adanya loyalitas, kepercayaan, komitmen dan tanggung jawab daripada anggotanya kepada organisasi sehingga mereka tahu apa yang harus mereka lakukan karena mereka di bawah naungan yang sama. Kebahagiaan yang anggota rasakan jika tujuan organisasi tercapai bukan semata-mata mencari keuntungan material atau popularitas semata. Sungguh indah harapan dan ekspetasi seperti itu. Kenyataan sering "menamparnya" dan mengatakan secara terbalik.

Semoga Anindosta Studios bisa membawa kesadaran berharga bagi para anggotanya bukan hanya untuk mencapai tujuan semata tetapi sebagai ikatan yang kuat untuk meningkatkan jati diri sebagai seseorang yang bermoral.