Dewasa ini, memikirkan bagaimana meneruskan keturunan sekaligus menjalankan sunnah Nabi Muhammad SAW dengan banyak hal yang mesti diperhatikan. Kesejahteraan keluarga, tanggungjawab adik-kakak dan keimanan terhadap pasangan yang selaras dengan perintah Nabi menjadi faktor bahwa menikah bukan hanya memuaskan cinta semata. Tetapi menjadi jalan masa depan atas segalanya, hubungan terhadap pencipta dan sesama manusia.
Keduniaan berkembang pesat mempengaruhi sebuah pernikahan yang hanya berdasarkan cinta semata. Beberapa orang mengatakan pernikahan tidak harus sempurna, karena nantinya seiring berjalannya waktu masalah akan terselesaikan dalam hubungan pernikahan tersebut, saling memahami, mengatasi setiap masalah yang muncul, dan mampu menjaga hubungan terus abadi. Dalam perspektif yang aku miliki, pernikahan terjadi karena atas suatu perintah dan dijalankan sesuai aturan perintah tersebut, bukan kehendak manusia semata tetapi pencipta yaitu Allah Ta'ala.
Menaati perintahnya menjadi mutlak, siapa lagi yang dapat dipercaya begitu besar kecuali kepada penciptanya. Ia tidak mungkin memberikan kekecewaan melainkan keridhaan dan kenikmatan karena taat. Disaat dunia yang terlihat semakin suram akibat moralitas manusia yang terus luntur, apakah bisa kita percaya sepenuhnya pada dunia? Allah Ta'ala menjadi sandaran dan memahami apa yang diinginkannya.
Pasangan yang mampu mengikat satu sama lain untuk terus berada di jalan yang Allah Ta'ala kehendaki, menarik satu sama lain untuk berada di jalan yang lurus. Seiring berjalannya waktu, ada kalanya kita akan melenceng dari jalan yang seharusnya akibat tekanan dan pengaruh dunia yang begitu besar. Saat itu pula, harus ada seseorang yang dipercaya dengan segenap hati untuk memberikan sinyal atau peringatan agar kembali ke jalan yang seharusnya.
Untuk itu, memberikan perhatian besar kepada pasangan hidup abadi menjadi sangat penting. Akan dibawa kemanakah kita kedepannya, mendekati pada dunia abadi atau justru sebaliknya? Akhlak dan moralitas menjadi dasar atas segalanya, menjadi luntur dan hilang jika agama hanya dijadikan ritual semata bukan sebagai tempat untuk bercermin dan bersadar.
Memikirkan orang lain terlebih dahulu dibandingkan diri sendiri telah membuatku menjadi sangat kecewa, dan kehilangan kepercayaan kepada orang lain. Seharusnya aku menyadari bahwa selama ini Allah Ta'ala tidak pernah sedikitpun mengecewakanku, semua yang aku dapatkan berasal dari pertolongan-Nya.
Menjalin hubungan baru hingga pada tahap sebagai pasangan mungkin akan sulit aku jalani, tetapi hubungan lama yang sudah aku jalin akan terasa lebih mudah tetapi akan lebih realistis dan kaku. Penyembuhan atas luka yang dihasilkan dari keputusan yang aku buat akan membutuhkan waktu, kehilangan kepercayaan diri karena moralitas manusia yang semakin luntur, terlebih dilakukan oleh seseorang yang terlihat religius.
Banyak orang mencari sebuah pembenaran atas suatu hal. Tetapi bagiku ini adalah sebuah realita yang terjadi sebenarnya, menjadi logis bahwa setiap utusan diturunkan untuk memperbaiki akhlak. Sangat tidak mungkin Allah Ta'ala membiarkan orang-orang yang mengikuti ajarannya menjadi tersesat dalam dunia, dan semakin lama akan menjauh dari keinginan-Nya.
Pasti Ia menurunkan seorang utusannya untuk membimbingnya agar tetap dalam jalan yang lurus, meski banyak tidak disukai orang. Kehidupan nyaman yang telah dijalani menjadi terganggu, seperti orang yang memiliki harta berlimpah harus menyerahkan 1/3 seluruh hartanya untuk agama, atau orang yang berpenghasilan tetap menyerahkan 1/10 hartanya untuk agamanya setiap ia mendapatkan penghasilan.
Atau hal-hal lain yang lebih ketat, tentunya akan mengganggu kenyamanan. Menghilangkan kesombongan dan ketakaburan misalnya, hal yang sangat lumrah terjadi dalam masyarakat. Itulah menjadi alasan hanya sedikit orang yang tetap berada di jalan yang lurus, karena mengganggu kenyamanan dunia. Dalam hubungan pasangan, menikah bukan hanya atas dasar cinta melainkan agama yang aturannya lebih ketat dari sebenarnya.
Memberi batasan laki-laki dan perempuan saat pernikahan berlangsung misalnya, atau merayakan pernikahan dengan khidmat dan sederhana. Tamu laki-laki hanya bisa menemui pasangan laki-laki dan tamu pertempuan hanya bisa menemui pasangan perempuan, siapapun itu untuk menjaga batasan. Pernikahan sederhana dan khidmat juga salah satu yang diajurkan dalam agama.
Pada kenyataannya, pernikahan digelar meriah, semua bercampur dan bernyanyi ria tanpa ada batasan-batasan. Menunjukkan kesombongan dan keangkuhan satu sama lain, harta benda, jabatan dunia. Setelah itu, mereka hidup dalam kenyamanan dunia. Agama sebatas ritual, bukan sandaran atas setiap hal yang terjadi. Itulah pernikahan yang mereka inginkan bukan apa yang Allah Ta'ala inginkan.

0 Komentar